Tiara Arini asked 1 minggu ago

Saya memiliki teman dekat lawan jenis, saya tidak menganggap dia pacar saya, tapi dia memang orang spesial. Saya tidak suka dgn kata “pacaran” tapi kami sudah berkomitmen. Saya tidak tahu apakah ini adalah salah saya, tapi saya pikir ini adalah salah saya. Saya berumur 25 tahun dan dia berumur 36 tahun dgn status duda, memiliki 2 orang anak yg saat ini masih bersama ibunya. Tingkat pendidikan pun berbeda, saya lulusan Sarjana Teknik, dia lulusan SMP, pernah sekolah di SMK jurusan otomotif tapi karena beberapa hal dia keluar dan tidak melanjutkan. Dalam ilmu agama, dia selalu merasa saya lebih daripada dia.
 
Permasalahannya adalah, hingga saat ini, walau kami sudah berkomitmen, saya tidak pernah merasa diterima sepenuhnya oleh dirinya. Selalu saja mengungkit perbedaan-perbedaan kami.
Sekarang dia bekerja di pulau seberang, penghasilannya juga lebih tinggi daripada saya. Hanya karena saya tidak terlalu suka menerima uang pemberian dari dia, dia menjadi marah pada saya. Saya jelaskan kalau saya ingin sesuatu, saya akan berusaha, kalau saya butuh bantuan dia, saya pasti akan bilang. Akan tetapi, dia selalu menyalahartikan dan kembali mengungkit perbedaan kita. Dia bilang saya tidak bisa menghargai pemberian dia. Dia minta saya untuk membelanjakan uang yg dia beri, tapi saya tidak bisa karena uang yg sekarang saya pegang, saya rasa terlalu riskan untuk dibelanjakan hal-hal yg masih bisa ditunggu.
Sebelumnya saya memberikan ide agar uang tersebut dibelikan sepeda untuk anaknya, tetapi dia mulai sedikit marah. Kemudian saya urungkan niat itu. Saya berterima kasih padanya karena sudah begitu baik pada saya yg memang saat ini sedang cukup kesulitan. Tapi lagi-lagi dia marah pada saya dan kembali saya merasa bahwa saya belum bisa diterima olehnya.
Saya katakan pada dia kalau saat ini yg saya butuhkan adalah semangat, support, penerimaan atas diri saya agar saya bisa lebih percaya diri menghadapi hidup. Tetapi sekali lagi, saya tidak mendapatkan hal itu. Saya tidak tahu bagaimana lagi harus membuat diri saya bisa diterima oleh dia. Saya merasa benar-benar kehilangan semangat hidup, saya merasa ingin mati saja.