Kekerasan yang Dilakukan Oleh Anak?

Dunia anak seharusnya adalah dunia yang ideal, dunia bermain dan berimajinasi tanpa batas. Dunia yang dari sana muncul mimpi-mimpi tentang perubahan dunia. Bukan dunia yang penuh ketakutan, kecemasan dan penolakan.

Layakkah kekerasan yang dilakukan oleh anak?

Sekarang ini (20/9), banyak kita mendengar kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak. Anak mem-bully teman sebaya, hingga akhirnya berujung kematian. Kekerasan pada konteks apapun adalah dilarang, apalagi jika kekerasan yang dilakukan oleh anak.

Kondisi ini sangat mempritahatinkan, karena sedari usia dini anak sudah dihadapkan pada kekerasan. Kejadian yang terus menerus dan berulang seperti ini akhirnya akan memberikan bias kepada pemahaman makna kekerasan. Kekerasan akan menjadi hal biasa, dan, “parahnya”, kekerasan akan dianggap sebagaian dari norma yang boleh dilakukan.

Tentu kita tidak mau, anak kita hidup dalam dunia yang penuh dengan hal-hal negatif dan tidak membangun seperti itu bukan? Anak hendaknya mendapatkan pondasi karakter dan pendidikan yang mampu mendorong pengembangan potensi minat dan bakatnya secara maksimal.

Pengembangan potensi untuk meminimalisir kekerasan yang dilakukan oleh anak

Secara umum, ada empat bidang kemampuan yang dapat dimiliki oleh anak, yaitu sebagai berikut 1)Parenting Research Centre. (2003). Systematic use of daily interactionMelbourne: Australia.:

  1. Keterampilan motorik, seperti gerakan kepala, lengan, kaki, tangan dan jari;
  2. Keterampilan komunikasi, seperti bicara atau menunjukkan kebutuhan-kebutuhan dengan cara lain (tanda-tanda, gerak tubuh dan mata, ekspresi wajah) serta memahami apa yang orang lain katakan;
  3. Keterampilan membantu diri, seperti makan, mencuci tangan dan berpakaian;
  4. Keterampilan akademik, seperti mendengarkan, menempuh giliran, menggambar, membaca dan menulis.

Setiap anak pasti memiliki kreativitas, karena pada dasarnya kreativitas bertujuan untuk memanfaatkan segala kemungkinan, bahkan yang bertentangan dengan rasio. Karena perkembangan kognitif anak belum mencapai taraf logika formal, maka lebih besar pula kesempatan bagi anak untuk bereksperimen dengan kreativitasnya tersebut.

kekerasan yang dilakukan oleh anak
Sumber: blogdetik[.]com
Pada akhirnya sikap lingkunganlah yang akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Bila anak dibesarkan di lingkungan yang sangt memperhatikan logika dan aturan yang kaku, maka anak juga akan belajar menjadi taat pada aturan dan cenderung kaku.

Tetapi bila anak sangat dibebaskan dalam berkreasi, ia akan memiliki rasa aman bahwa kreatif tidak jelek dan mungkin dapat menolak semua aturan. tentu saja cara memfasilitasi perkembangan kreativitasnya namun juga mengerti bahwa aturan perlu ada dan perlu ditaati.

oleh karena itu, untuk menghindari tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak, orang tua dan guru memegang peranan paling penting. Karena mereka adalah ingkungan terdekat anak untuk berinteraksi.

Jika orang tua atau guru secara fisik atau verbal mencontohkan hal-hal yang positif, anak pasti akan lebih cepat memahami dan menginternalisasi hal tersebut kepada dirinya dan lingkungan. Pada akhirnya anak akan memahami nilai dan norma kehidupan yang tidak menggunakan kekerasan sebagai cara berinteraksi.

Referensi   [ + ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − 3 =


Dapatkan info terbaru!

Selalu terhubung dengan kami, untuk mendapatkan informasi paling baru mengenai media eksplorasi untuk anda, anak dan keluarga.
Alamat Email
Aman dan Rahasia