Menanggapi Kritik dari Siswa

Jaman sudah semakin maju dan segala rupa peradaban pun semakin lama semakin berkembang. Demikian pula dengan perubahan karakter generasi muda yang tidak lagi malu untuk mengambil sikap. Hal tersebut juga dapat dilihat pada anak-anak usia sekolah yang saat ini lebih berani dan aktif dalam proses komunikasi maupun pergaulan.

Mereka tanpa canggung mengkritik perkataan orang lain bila memang dirasa tidak cocok dengan dirinya. Termasuk ketika mereka berinteraksi dengan orang yang lebih tua, dalam hal ini guru di sekolah. Siswa generasi sekarang memiliki keunggulan dalam keaktifan di kelas. Mereka kritis dalam bertanya sampai mendapatkan jawaban yang dirasa masuk akan dan cocok dengan keinginannya.

Namun, sikap kritis tersebut terkadang bagi sebagian guru menjadi ancaman yang menakutkan karena berbagai alasan, salah satunya kurangnya update ilmu. Guru tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyan kritis siswa hingga akhirnya mempengaruhi kredibilitas guru itu sendiri. Fenomena tersebut terkadang memunculkan amarah yang berujung pada kebencian dan tindakan yang kurang sportif dari guru, seperti memberi nilai jelek.

Apabila tidak mendapat perhatian serius, sangat dimungkinkan akan berdampak kurang positif pada pengembangan diri siswa. Mereka menjadi tidak nyaman dalam berkomunikasi, yang pada akhirnya akan mematikan kreativitas dan sikap kritis mereka. Oleh karenanya dibutuhkan pemahaman satu sama lain agar saling mengerti kebutuhan dan keinginan kedua belah pihak.

Guru dan siswa berasal dari dua generasi yang berbeda. Yang dapat menyatukan mereka adalah pola komunikasi yang efektif. Menurut De Vito (2007), komunikasi dapat terjalin efektif apabila ada interaksi dua arah yang saling dapat memberi dan menerima pesan. Komunikasi dapat dikatakan efektif apabila ada keterbukaan, empati, kesetaraan, bersikap positif, dan dukungan.

Sebagai guru, mereka perlu mengembangkan keterbukaan terhadap segala hal baru yang sifatnya positif, termasuk terbuka menerima kritik dari siswa yang mungkin dapat meningkatkan pengembangan dirinya. Keterbukaan adalah mendengarkan secara terbuka, mengungkapkan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan menanggapi pembicaraan orang lain dengan jujur.

Guru pun harus selalu bersikap positif, salah satunya dengan menggunakan kalimat-kalimat positif atau ekspresi non verbal seperti acungan jempol ketika ada siswa yang dapat menunjukkan bakal lebihnya. Beri dukungan kepada mereka berupa kalimat-kalimat motivasi agar lebih bersemangat lagi meningkatkan kemampuan diri.

Dengan tambahan rasa empati kepada mereka, guru akan menjadi pribadi yang lebih terbuka. Guru dapat merasakan apa yang dialami orang lain dengan sudut pandangnya tanpa harus mengalami, sehingga ketika ada yang memberikan kritik pedas, guru bisa mengerti dan tidak langsung menanggapinya dengan emosi.

Satu tanggapan untuk “Menanggapi Kritik dari Siswa

  • Silvi Nuria
    09/03/2015 pada 2:18 pm
    Permalink

    menurut saya menanggapi kritik dari siswa harus dengan pemikiran yang terbuka dengan mengambil sisi positif dan negatifnya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 9 =


Dapatkan info terbaru!

Selalu terhubung dengan kami, untuk mendapatkan informasi paling baru mengenai media eksplorasi untuk anda, anak dan keluarga.
Alamat Email
Aman dan Rahasia