Mencegah kekerasan seksual pada anak

Orang tua di Indonesia, mungkin, sedang gelisah sekarang ini. Berita mengenai kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi di sebuah taman kanak-kanak terkenal dan bertaraf internasional di Jakarta, membuat kita tidak habis pikir.

Sekolah sebagai tempat pendidikan, dan harusnya menjadi tempat yang menyenangkan. Ternyata menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual pada anak.Elemen-elemen sekolah yang seharusnya menjadi pengawas, malah merusak kredibilitas fungsi dan peran mereka.

Mencegah kekerasan seksual pada anakTerlepas dari siapa yang bersalah atau tidak. Kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekolah, harus menjadi perhatian bersama, baik dari pemerintah, pihak sekolah, pelaku pendidikan dan, terutama, orang tua.

Kekerasan seksual pada anak, dapat terjadi pada semua level dan golongan masyarakat. Dan dari kejadian yang terjadi tersebut, sudah seharusnya kita semua dapat lebih peka terhadap kondisi fisik dan psikis anak.  Sensitifitas orang tua terhadap anak dapat menjadi kunci bagi kita semua untuk menjaga buah hati dari kasus serupa.

Dalam buku Psikologi Abnormal, Nevid, Rathus & Greene menyebutkan bahwa anak dari keluarga yang kurang kohesif dan retak lebih rentan menjadi korban daripada anak dari keluarga yang lebih kuat dan utuh.

Anak yang tidak mendapat dukungan sosial yang positif dari keluarga lebih banyak menjadi sasaran karena anak biasanya nampak seperti pribadi yang kosong. Anak tampak mudah dibujuk, dimanipulasi, diberi iming-iming hadiah atau diberi ancaman untuk tidak mengadu kepada orangtua. Pelaku memanfaatkan kekosongan tersebut sehingga akhirnya ada kejahatan penganiayaan anak.

Keluarga utuh dengan pola komunikasi yang sehat antara anak dan orangtua memegang peran penting dalam memproteksi anak. Anak-anak dengan pola komunikasi yang sehat akan lebih terbuka untuk bercerita dan mengungkapkan emosinya pada keluarga dibanding anak dari keluarga dengan pola komunikasi yang kurang sehat. Seharusnya anak dapat berkomunikasi dengan orangtua dan keluarga tanpa ada rasa takut, tidak dipercaya atau disalahkan.

Tidak ada yang menginginkan hidup dalam keluarga yang retan. Agar pola komunikasi keluarga tetap sehat dan jauh dari keretakan, perlu dibangun kebiasaan-kebiasaan positif dalam keluarga. Adanya waktu kumpul bersama keluarga setiap hari untuk saling bertukar cerita adalah awal yang bagus dalam meningkatkan kualitas komunikasi keluarga.

Kenyamanan anak dalam keluarga dan pola komunikasi yang sehat adalah poin lebih dalam mengantisipasi kondisi buruk yang mungkin saja menimpa. Anak dan orangtua dapat bercerita tentang kesehariannya, sehingga bila yang mencurigakan dan mengarah pada tindakan negatif, orangtua segera mengetahui dan dapat mengambil tindakan yang tepat.

Tugas kita bersama untuk menciptakan kondisi aman bagi anak. Bahaya selalu ada, maka diperlukan kewaspadaan tinggi namun tetap arif dan bijaksana. Menemani anak dalam setiap tumbuh kembangnya akan menjadikan orangtua lebih peka terhadap permasalahan anak dibanding orangtua kurang dekat dengan anak karena kesibukannya. Mencegah kekerasan seksual pada anak.

Jadi Orangtua Tipe apakah Anda?

Sumber Gambar: republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − 5 =


Dapatkan info terbaru!

Selalu terhubung dengan kami, untuk mendapatkan informasi paling baru mengenai media eksplorasi untuk anda, anak dan keluarga.
Alamat Email
Aman dan Rahasia