Menciptakan Relasi yang Berkualitas dengan Anak Sejak Lahir

Ketika seorang bayi baru lahir, tentunya aktivitas utama mereka adalah menangis. Mereka akan menangis sekencang-kencangnya ketika ia mulai lapar, mengompol, atau buang air besar. Seorang bayi yang baru lahir menangis untuk menarik perhatian dan meminta bantuan kepada orangtua untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk seorang ibu yang segera menyusui ketika seorang anak menangis kelaparan. Segera mengganti celana dan pakaian setelah mengompol dan membuang air besar.

Mungkin sebagian besar, tangisan tersebut adalah hal biasa. Namun apa jadinya ketika anda sebagai orangtua tidak merespon dan membantunya ketika mereka menangis ?

Menurut Erik Erikson dalam Santrock (2013) bahwa satu tahun pertama dalam kehidupan ditandai oleh tahap perkembangan rasa percaya versus rasa tidak percaya (trust vs mistrust). Seorang bayi yang tadinya di dalam kandungan ibu merasakan adanya kehidupan yang teratur, hangat dan terlindungi kemudian ketika dilahirkan ke dunia, ia merasakan kehidupan yang dirasa kurang aman.

Jika orangtua tidak bisa memberikan rasa aman dan kehangatan layaknya seperti kehidupan dalam kandungan, seorang bayi akan mengembangkan rasa tidak percaya terhadap orang lain. Sebagai contoh, jika seorang ibu tidak mau menyusui atau memberikan makan kepada bayinya ketika menangis, maka seorang bayi akan mengembangkan rasa tidak percaya. Bayi akan merasa tidak dibantu dan dijamin keamanannya oleh orangtua, khususnya ibu. Jika orangtuanya saja tidak mampu menjamin keamanannya, bagaimana mungkin ia akan mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.

Lain halnya jika ketika seorang bayi menangis, kemudian anda membantunya untuk memenuhi keinginannya. Ia akan merasa aman dan dijamin keamanannya oleh orangtua. Ia mengembangkan rasa aman dalam hidup sehingga rasa percaya terhadap orang lain pun berkembang.

Di samping mengembangkan rasa percaya, salah satu komponen khusus dalam relasi orangtua dan bayi adalah terbentuknya suatu ikatan (bonding). Bonding adalah pembentukan hubungan khususnya ikatan fisik antara orangtua dan bayi baru lahir dalam periode setelah kelahiran.

Santrock (2013) mengatakan bahwa dalam periode singkat setelah kelahiran, selain membangun kedekatan fisik, orangtua dan bayi perlu membentuk semacam kelekatan emosional sebagai landasan untuk mencapai perkembangan optimal pada masa yang akan mendatang. Kelekatan di sini adalah ikatan emosional yang kuat antara dua orang.

Tentunya kelekatan ini dibentuk dengan beberapa tahapan yang harus dibentuk orangtua dengan seorang bayi. Salah satunya adalah kenyamanan fisik, kepekaan dan perawatan yang baik yang diberikan oleh orangtuanya kepada seorang bayi.

Ketika seorang ibu menyusui, terjadilah pembentukan ikatan hubungan emosional antara ibu dan anak. Seorang ayah pun dapat mendukung proses pembentukan emosional dengan cara memberikan ciuman dan pelukan kepada bayi ketika seorang ibu sedang menyusui bayinya. Ayah dapat membantu seorang Ibu dalam merawat seorang bayi dengan cara bekerja sama membagi tugas untuk merespon dan memenuhi kebutuhan sang bayi sehingga bayi dapat merasakan kehadiran dan keterlibatan emosional kedua orangtua terhadap dirinya.

Maka dari itu sebagai orangtua, menciptakan relasi yang baik dilakukan sejak seorang anak lahir di dunia. Hal ini akan membantunya untuk mengembangkan relasi yang positif dengan dunia luar karena anda memberikan jaminan rasa aman terhadap dirinya. Jika seorang bayi tidak merasakan dipeluk, dicium, digendong oleh orangtuanya bagaimana ia akan memaknai bahwa dunia luar aman baginya ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × two =


Dapatkan info terbaru!

Selalu terhubung dengan kami, untuk mendapatkan informasi paling baru mengenai media eksplorasi untuk anda, anak dan keluarga.
Alamat Email
Aman dan Rahasia