Menghadapi Ujian Nasional dengan Gembira

 

[yt video=”fpDD2-OxVOI?” width=”450″ height=”340″ /]

 

Ujian Nasional adalah momen yang menakjubkan untuk para pelajar, tanpa terkecuali. Ada yang menunggunya dengan ceria dan antusias, ada yang biasa saja, namun banyak juga yang menunggu dengan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan.

Orang dewasa pun akan mengalami hal serupa apabila berada di posisi anak-anak, seperti halnya ketika menghadapi ujian kelayakan kenaikan pangkat misalnya. Kekhawatiran tersebut cukup beralasan, pasalnya ujian nasional merupakan ujian terakhir yang akan menentukan lulus atau tidaknya siswa sekolah.  Ujian nasional menjadi salah satu syarat wajib untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.  Jadi sangat wajar apabila ujian nasional memunculkan kekhawatiran pada diri anak.

Beragam reaksi muncul dari kondisi anak yang akan mengikuti ujian nasional. Kita bisa rasakan bersama-sama, bahwa rata-rata orangtua pernah mendapati perilaku anak yang berbeda selama fase tersebut. Keseriusan anak-anak belajar,mengikuti les, dan mendapatkan pelajaran tambahan, mau tak mau memangkas waktu bermain dan santai mereka. Anak-anak Dipadati dengan jadwal belajar, dipenuhi dengan tuntutan nilai tinggi dari lingkungannya, dan muncul ekspektasi pribadi yang tinggi terhadap keberhasilan diri.

Menghadapi Ujian Nasional dengan Gembira
Sumber: joglosemar.co

Apabila tidak terjadi keseimbangan antara waktu belajar dan bersantai, sering kita jumpai anak-anak yang sering mengeluh tentang kondisi dirinya. kurang bertenaga ketika bangun pagi, enggan sarapan, mendadak sakit perut, badan panas, mual dan muntah ketika akan berangkat sekolah. Kondisi tegang yang mengharuskan anak-anak berpikir dapat menyebabkan gejala sakit fisik.

Gejala-gejala fisik tersebut belum tentu karena memang faktor fisik anak yang melemah terkena virus atau bakteri. Ada kemungkinan gejala-gejala fisik yang muncul pada anak adalah manifestasi dari beban psikologis menjelang ujian nasional. Sebagai orangtua, kita perlu bijak dan jeli dalam membedakan kemungkinan-kemungkinan penyebab timbulnya gejala fisik pada anak.

Orangtua tidak perlu cemas menghadapi persoalan tersebut, yang penting untuk didahulukan adalah cermati riwayat sebelum sakit timbul. Komunikasikan dengan anak apa yang terjadi pada dirinya. ajak anak untuk berbicara dari hati ke hati mengenai kondisi dirinya. membiasakan anak untuk bercerita mengenai kondisi dirinya akan membantunya melatih kepekaan diri. Lihat dan amati gejala yang muncul, apakah berkelanjutan atau hanya reaksi yang bersifat sementara. Bawalah anak ke ahlinya apabila kondisi tidak kunjung membaik untuk penanganan lebih lanjut.

Jika kondisi anak masih bisa ditangani sendiri oleh orangtua, maka bijaklah dalam memberikan penanganan kepada anak. orangtua bisa membeli obat bebas jika dibutuhkan, atau sekadar mengajak anak untuk relaks dan santai dari kondisi yang membebaninya. Orangtua bisa mengajak anak untuk menghirup udara segar sejenak sambil merekonstruksi kecemasan dan kekhawatirannya pada ujian nasional dengan kegiatan ringan, seperti mengikuti olahraga, mengapresiasi seni, atau mencintai lingkungan hidup.

Akan tetapi apabila dirasa orangtua kurang mampu mengatasi kondisi anak, maka segerakanlah membawa anak ke ahlinya. Bawalah ke dokter apabila dibutuhkan penanganan medis atau hubungi psikolog apabila membutuhkan penanganan yang bersifat non-medis. Berkonsultasi dengan dokter dan psikolog tentang kondisi anak, tentunya akan meringankan kekhawatiran orang tua dan memberikan penanganan yang tepat untuk anak.

Cermati kondisi anak Anda, dan jadilah orang pertama yang mengetahui perubahan yang terjadi padanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + fifteen =


Dapatkan info terbaru!

Selalu terhubung dengan kami, untuk mendapatkan informasi paling baru mengenai media eksplorasi untuk anda, anak dan keluarga.
Alamat Email
Aman dan Rahasia