Pencegahan penularan HIV kepada anak melalui pembentukan karakter

Pencegahan penularan HIV kepada anak melalui pembentukan karakterPelaporan kasus HIV usia anak akhir April 2014 oleh Kementrian Kesehatan, cukup mencengangkan dan memprihatinkan. Pencegahan penularan HIV kepada anak melalui pembentukan karakter dapat menjadi solusi pencegahan bersama.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada anak usia 0-4 tahun pada akhir Maret 2014 ada 110 anak terinfeksi HIV, sedangkan pada anak usia 5-14 tahun ada 48 anak dengan HIV dan 1 diantara menderita AIDS. Jumlah tersebut meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Penularan HIV pada anak sebagian besar disebabkan oleh penularan dari ibu ke anak. Hal ini terjadi karena perawatan ibu selama kehamilan yang belum optimal, sehingga sangat memungkinkan menularkan virus tersebut kepada anak.

Ibu dapat tertular virus dari berbagai variasi perilaku, diantaranya ibu adalah pengguna narkoba suntik aktif, ibu adalah pelaku seks bebas yang berganti-ganti pasangan, atau ibu tertular dari suami dengan perilaku yang rentan terhadap penularan virus.

Perilaku berisiko yang menyebabkan penularan HIV kepada anak adalah rentetan peristiwa yang berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan karakter pada saat orangtua mereka masih anak-anak. Anak-anak yang tidak mendapatkan pengasuhan positif dan pendidikan karakter yang baik, dikhawatirkan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang rentan menghadapi permasalahan hidup.

Kerentanan tersebut dapat berimbas pada kondisi emosional yang tidak matang, sehingga cenderung labil dan mudah terpengaruh oleh kondisi dari luar dirinya. sebagai contoh, remaja yang sedang berada pada masa stress, rentan menghadapi gangguan perilaku. Mereka berusaha memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, seperti merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks sehingga rawan terpapar virus HIV.

Keseriusan memutus mata rantai penularan HIV harus diiringi dengan keseriusan dalam membentuk karakter insan Indonesia yang unggul. Sedini mungkin, anak harus diberi bekal jiwa yang sehat baik melalui keluarga yang hangat maupun pendidikan moral dan karakter yang tepat nilai dan mutu.

Membentengi anak bukan berarti menempatkan anak pada kurungan pengawasan. Membentengi anak adalah memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak agar anak terlatih untuk bertanggungjawab dan dapat memilih menentukan keputusan secara benar dan arif. Anak memiliki kehendak sendiri, tugas orang tua adalah mendampingi anak untuk tumbuh dan berkembang secara utuh.

Sumber gambar : http://life.viva.co.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − 10 =


Dapatkan info terbaru!

Selalu terhubung dengan kami, untuk mendapatkan informasi paling baru mengenai media eksplorasi untuk anda, anak dan keluarga.
Alamat Email
Aman dan Rahasia