Peran Guru Pembimbing

Dunia semakin modern dan modernitas menuntut manusia untuk terus berjalan bahkan berlariĀ  mengikuti perkembangannya. Sebagaimana halnya pendidikan. Pendidikan pun terus mengasah diri untuk memenuhi tuntutan jaman modern yang sudah mulai mengglobal. Pendidikan tidak hanya mencetak manusia yang pandai akal. Pendidikan dituntut untuk mencetak manusia yang juga pandai ahklak. Akan tetapi, apabila melihat fenomena masyarakat sekarang, pendidikan hanya sebatas tuntutan dan paksaan untuk mengenal ilmu, hanya mengenal.

Coba tengok, berapa banyak model pendidikan yang mengajarkan matematika dengan mengasosiasikannya dengan kehidupan bersosial? Atau bagaimana fisika menjadi dasar penemuan-penemuan mutakhir yang berguna untuk lingkungan? Bahkan pernahkah dilihat pendidikan PPKN yang mengajarkan manusia untuk saling menghargai dan tolong menolong berdasarkan Pancasila?

peran guru pembimbing

Mungkin sudah ada yang menerapkan pendidikan selayaknya pendidikan yang optimal, tapi sudahkah semua? Gambaran-gambaran pendidikan yang dapat ditangkap mata sekarang adalah merebaknya aksi-aksi siswa sekolah diluar batas kewajaran. Tawuran, prostitusi, pembunuhan, narkoba adalah sedikit dari contoh aksi kenakalan siswa sekolah yang menjurus pada kriminalitas. Semua aksi tersebut bimsalabim bisa disulap dengan baik hanya dengan mengganti kurikulum yang berbasis karakter oleh ahli-ahli pendidikan di negara ini. Penggantian kurikulum yang kabarnya membutuhkan dana yang tidak sedikit tersebut, digadang-gadang bisa menjadi solusi praktis untuk menangani permasalah kenakalan siswa.

Tapi apakah mengganti kurikulum adalah langkah yang praktis dan efisien? Alih-alih mengganti kurikulum yang terkesan dipaksakan, peran aktif elemen sekolah bisa menjadi alternatif jawaban terhadap masalah tersebut.

Elemen yang paling dekat dengan kehidupan peserta didik terkait dengan emosi dan perilaku adalah tak lain dan tak bukan adalah guru bimbingan dan konseling (BK), sebagai guru pembimbing. Selama ini peran guru pembimbing diartikan hanya sebatas polisi sekolah yang menindak anak nakal. Bagi siapa saja yang berurusan dengan guru BK adalah anak bengal yang tidak dapat diatur. Stigma tersebut telah melekat dalam diri siswa didik atau bahkan melekat pada jiwa guru BK itu sendiri, sehingga terkadang mengaburkan peran dasar seorang guru BK.

Peran guru BK pada dasarnya adalah pendamping siswa dalam menghadapi permasalahannya baik akademis maupun non-akademis. Guru BK memberikan bimbingan dan memberikan alternatif pemecahan masalah untuk keluhan dan permasalahan siswa. Menyadarkan dan mengoptimalkan peran guru BK di kalangan siswa maupun guru, menjadi pekerjaan rumah penting untuk sekolah.

Peran ini dapat dioptimalkan dengan langkah praktis, yaitu membuka diri untuk berkomunikasi efektif dengan siswa didik melalui keterbukaan, empati, dan dukungan. Guru BK perlu kerelaan diri untuk membuka hati dan pikiran agar dapat berempati terhadap permasalahan siswa. Tidak menggunakan kacamata pribadi sang guru, tetapi ikut menyelami apa yang dipikirkan oleh siswa agar siswa pun ikut terbuka dalam menyampaikan masalah. Kedekatan yang terbangun inilah yang bisa memberikan makna mendalam dalam hati siswa sehingga dukungan dan nasihat dari guru BK dipertimbangkan oleh siswa. Terkadang, memenjarakan sementara norma pribadi guru BK dibutuhkan untuk menggali permasalahan siswa, hingga dikeluarkan pada saat yang tepat. Akan tetapi apabila sudah terbangun kedekatan antara guru BK dan siswa, dukungan dan nasihat guru adalah obat mujarab bagi permasalahan siswa.

Apabila optimalisasi peran guru BK sebagai elemen sekolah sudah maksimal diusahakan, dengan sendiri sekolah akan lebih banyak menangkap sinyal-sinyal kenakalan siswa lebih dini. Dengan demikian, akan semakin dini pula memutus mata rantai kenalakan siswa di ujung yang tepat. Tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, optimalisasi ini harus dilakukan secara terus menerus dengan diimbangi keikhlasan hati untuk mendidik dan membimbing. Setiap elemen sekolah pasti punya peran, tinggal apakah mau mengoptimalkan setiap peran elemen sekolah tersebut.

Namun, pertanyaan yang kemudian pantas dilayangkan kepada setiap elemen sekolah adalah sudahkah menyadari fungsi, peran, dan tanggungjawab masing-masing untuk siswa? Pertanyaan sangat pribadi yang sangat membutuhkan perenungan mengingat jaman sekarangpun banyak elemen sekolah yang justru melakukan kenakalan yang belum dan seharusnya tidak pantas dilakukan. Silakan tengok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve − two =


Dapatkan info terbaru!

Selalu terhubung dengan kami, untuk mendapatkan informasi paling baru mengenai media eksplorasi untuk anda, anak dan keluarga.
Alamat Email
Aman dan Rahasia