Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 2, Maret 2019

pISSN 2656-8225 | eISSN 2656-0089

Belajar Sejarah Dengan Metode Pementasan Drama

Belajar sejarah seperti mempelajari diri sendiri karena erat kaitannya dengan aspek sosiokultural sebagai pribadi maupun masyarakat. Sejarah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai hal-usul (keturunan) silsilah, kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau dalam riwayat.

Mempelajari sejarah membutuhkan metode belajar yang dapat mengasah otak, merangsang kreativitas, dan menimbulkan kolaborasi antar siswa sehingga materi dapat terserap dengan baik. Beberapa metode belajar yang dianggap efektif meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam mata pelajaran sejarah antara lain, metode Think Pair Share (Kertasanjaya & Brata, 2016; Pakaya, Tuahanse, & Pakaya, 2015), model pembelajaran kreatif dan produktif (Mugiyanto, 2016; Priatmoko, 2013), metode group investigation (Matroji, n.d.; Subur, 2015), Value Clarification Technique (Ekasari, 2018), model genius learning (Wulansari, Suranto, & Kayan, 2013), dan pemutaran film (Herlinda, 2016)

Tidak Hanya Sekadar Nilai

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, sejarah adalah diri sendiri, jati diri siswa sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Berangkat dari hal tersebut, maka belajar sejarah harus melibatkan semua aspek yaitu aspek kognitif, aspek emosi dan aspek perilaku (Hawib Hamzah, n.d.).

Ditinjau lebih dalam, aspek kognitif meliputi pengetahuan dan pemahaman dari apa yang sudah diajarkan, dengan penilaian berupa hasil evaluasi ulangan harian atau tugas. Aspek emosi dapat dilihat dari bagaimana siswa menjiwai makna penting peristiwa/kejadian di masa lalu dan menjadikannya pelajaran untuk kehidupannya, dengan penilaian berupa nilai observasi, penilaian diri, penilaian antar teman dan jurnal.  Aspek perilaku/psikomotor melibatkan suatu aksi atau ketrampilan tertentu yang berdasar pada pengetahuan dan informasi yang didapat, dengan penilaian berupa nilai praktik, proyek dan portofolio (Sari, 2016).

Guru baiknya menggunakan metode belajar sejarah yang tepat agar ketiga aspek tersebut dapat diasah guna mengembangkan pribadi siswa dan pelajaran sejarah dapat menjadi salah satu pupuk bagi jiwa siswa untuk memiliki karakter kebangsaan.

Aksi Melalui Pentas Drama Sejarah

Salah satu metode pembelajaran yang dapat menghimpun ketiga aspek tersebut dalam satu wadah adalah metode pembelajaran melalui pentas drama sejarah yang menyenangkan  (Febriyanti, 2013; Ruangguru, 2016).

Drama sejarah, dalam KBBI, diartikan sebagai drama yang ditulis berdasarkan bahan sejarah, berupa peristiwa yang disusun secara longgar dan mengikuti urutan waktu. Pentas drama sejarah ini dapat dilakukan dalam bentuk mini drama yang dimainkan oleh sekelompok siswa dengan mempersiapkan materi yang akan dibawakan secara mandiri.

Siswa yang sudah terbagi dalam beberapa kelompok, diberikan penugasan sesuai dengan tema sejarah yang sedang dipelajari.  Setiap kelompok akan mendapatkan tema peristiwa yang berbeda, sehingga bisa menjadi bahan belajar silang dengan sekelompok siswa yang lain.

Siswa harus aktif menyiapkan keperluan drama, mulai dari skenario, kostum, properti panggung dan make up. Proses pembuatan skenario dapat menstimulasi siswa untuk menggali informasi secara lebih detail sehingga mendapatkan gambaran secara utuh dan nyata terhadap suatu peristiwa sejarah.

Tahap pembuatan skenario dapat dibantu oleh guru yang berfungsi sebagai konsultan sejarah agar skenario yang dibuat berisi tentang fakta sejarah yang pernah terjadi. Melalui proses ini guru dapat menilai aspek kognitif siswa berdasar uraian skenario yang telah dibuat.

Pementasan drama sejarah menstimulasi siswa untuk berpikir kreatif dan imajinatif dalam menjabarkan materi-materi sejarah serta menggambarkan situasi pada waktu peristiwa sejarah tersebut berlangsung sehingga penonton dapat merasakan peristiwa yang sedang terjadi.

Siswa dan penonton akan berproses dan mengalami peristiwa sejarah itu sendiri walaupun hanya dalam drama, sehingga siswa akan mudah mengingat dan menghayati materi-materi sejarah yang menjadi identitas dirinya, sebagai bagian dari pembelajaran pada aspek emosi.

Pementasan drama tersebut sebagai sebuah aksi dari siswa, secara tidak langsung, siswa telah membuat produk ketrampilan, yang merupakan bagian dari penilaian aspek psikomotor. Materi yang telah disampaikan dalam drama oleh siswa, kemudian diringkas guru dalam sebuah kesimpulan setiap akhir sesi drama.

Drama memang terkesan rumit dan perlu banyak usaha untuk mewujudkannya, tetapi akan menjadi pengingat tersendiri di pikiran maupun hati para siswa. Diharapkan dengan siswa melakukan aksi drama, para siswa akan terkesan dan mengingat materi-materi yang dipelajari dalam mata pelajaran sejarah.

 

Daftar Pustaka

Ekasari, P. N. (2018). Pembelajaran berbasis nilai pada mata pelajaran sejarah melalui model VCT (value clarification technique). Sejarah dan budaya : jurnal sejarah, budaya, dan pengajarannya. Https://doi.org/10.17977/um020v11i22017p192

Febriyanti, R. (2013). Pembelajaran sejarah yang kreatif | republika online. Diakses melalui february 20, 2019, from https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/13/03/18/mjqfjl-pembelajaran-sejarah-yang-kreatif

Hawib Hamzah, S. (n.d.). Aspek pengembangan peserta didik (kognitif, afektif, psikomotorik).

Herlinda, N. (2016). Upaya meningkatkan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran sejarah dengan menggunakan media pemutaran film pada siswa/i kelas xi ips 1 sman 1 rimba melintang. Jurnal serambi ptk (vol. Iii).

Kertasanjaya, I. N., & Brata, I. B. (2016). Meningkatkan motivasi belajar ips sejarah dengan penggunaan modul melalui model pembelajaran kooperatif tipe tps (think, pair and share) pada siswa kelas viii e smp negeri 1 susut tahun pelajaran 2012/2013. Jurnal santiaji pendidikan, 6(2).

Matroji. (n.d.). Penerapan model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sejarah materi pengaruh sejarah dunia terhadap sejarah bangsa indonesia abad 18-20 (ptk pada kelas ix ips semester genap di sma negeri 1 tambun utara tahun. Pegagogia : jurnal ilmu pendidikan.

Mugiyanto. (2016). Peningkatan motivasi dan prestasi belajar sejarah melalui model pembelajaran student teams achievement division (stad) siswa kelas xi ips i sma negeri 2 ngaglik. Yogyakarta.

Pakaya, L., Tuahanse, T., & Pakaya, Y. (2015). Upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas x ips 1 di sma negeri 1 marisa. Gorontalo.

Priatmoko, S. (2013). Upaya meningkatkan hasil belajar sejarah siswa kelas x-f sma negeri 2 magelang dengan menggunakan model pembelajaran kreatif dan produktif pada pokok bahasan asal usul dan persebaran manusia di kepulauan indonesia pada tahun ajaran 2012/2013. Semarang.

Ruangguru. (2016). Mengajar sejarah: dari membosankan menjadi mengesankan. Retrieved february 20, 2019, from https://blog.ruangguru.com/mengajar-sejarah-mengesankan

Sari, N. L. (2016). Penilaian afektif dan psikomotorik dalam pembelajaran sejarah di SMA negeri se-kabupaten kendal.

Subur. (2015). Meningkatkan motivasi dan prestasi belajar sejarah indonesia melalui metode group investigation pada siswa kelas x titl b smk n 1 purworejo tahun pelajaran 2014-2015. Yogaykarta. Retrieved from http://repository.upy.ac.id/225/1/artikel subur_1314444033.pdf

Wulansari, F., Suranto, & Kayan. (2013). Peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah melalui penerapan model pembelajaran genius learning pada siswa kelas xi ipa 1 sma negeri rambipuji semester genap. Pancaran, 4(2), 171–186.


Artikel Ilmiah Psikologi Populer ini diterbitkan oleh Buletin Jagaddhita dengan nomor pISSN 2656-8225 (cetak) dan eISSN 2656-0089 (media-online).
Jika Anda ingin menerbitkan artikel ilmiah Anda, silahkan kirim naskah tulisan ke [email protected]

Cara Pengutipan:

, Emilia. 2019. Belajar Sejarah Dengan Metode Pementasan Drama. Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 2, Maret 2019. Diakses pada tanggal 21-11-2019 melalui laman https://jagaddhita.org/belajar-sejarah-dengan-metode-pementasan-drama/.

Artikel Psikologi Populer lainnya, yang mungkin Anda cari: