Buletin Jagaddhita Januari 2019

Dampak Internet Tanpa Batas di Dunia Kerja: Cyberloafing

Digitalisasi telah merambah ke hampir semua aspek kehidupan, salah satunya adalah akses internet tanpa batas di tempat kerja. Kebutuhan akan akses internet sudah menjadi kebutuhan primer dalam bekerja. Tanpa akses internet, banyak aspek dalam pekerjaan menjadi lumpuh yang pada akhirnya mempengaruhi produktivitas pegawai.

Sebagai alat utama dalam bekerja, akses internet seperti makan buah simalakama. Diberi Kesempatan untuk mengakses internet setiap waktu, adalah keuntungan bagi pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan, namun juga timbul keuntungan sekunder yang bertolak belakang dengan efektivitas dan efisiensi kerja, yaitu internet untuk kepentingan pribadi.

Fenomena yang terjadi saat ini, banyak di antara pegawai yang justru menggunakan akses internet untuk kepentingan pribadi yang di lakukan di jam kerja. Pegawai mengakses situs untuk kepentingan pribadi seperti media sosial, belanja daring (dalam jaringan), mengunduh film terbaru, dan akses informasi untuk kebutuhan pribadi lainnya.

Tak bisa dipungkiri, perilaku tersebut baik langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi produktivitas dan kinerja pegawai.

Cyber Loafing dalam dunia kerja

Fenomena yang terjadi seperti penjelasan di atas, dalam kajian keilmuan disebut sebagai cyberloafing. Cyberloafing didefinisikan sebagai tindakan karyawan yang disengaja menggunakan akses internet milik perusahaan untuk hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan selama jam kerja (Lim, 2002),

Cyberloafing memiliki dua jenis, yaitu cyberloafing minor dan cyberlaofing serius (Blanchard and Henle, 2008). Cyberloafing minor meliputi penggunaan email dan internet pada saat kerja. Contohnya mengirim dan menerima pesan pribadi atau mengunjungi situs berita, keuangan, dan olahraga. Cyberloafing serius adalah seperti perjudian daring, mengunduh lagu, atau membuka situs-situs film daring.

Perilaku cyberloafing tersebut, baik minor maupun serius, adalah tindakan yang dapat mengganggu penyelesaian pekerjaan karena waktu yang tersita untuk kepentingan pribadi.

Dampak dan Pengaruh Cyber Loafing pada Dunia Kerja

Dalam beberapa penelitian di Indonesia, terjadinya cyberloafing dipengaruhi oleh beberapa kondisi di tempat kerja. Ramadhan dan Nurtjahjanti (2017) mengemukakan bahwa semakin negatif persepsi terhadap beban kerja, maka semakin tinggi kecenderungan melakukan cyberloafing.

Cyberloafing juga dipengaruhi oleh konflik yang dialami pegawai, semakin tinggi konflik yang di alami pegawai di kantor maka akan mempengaruhi pegawai melakukan cyberloafing (Herlianto, 2018). Di samping itu, kecerdasan adversitas dan komitmen organisasi (Rahayuningsih, 2017), menjadi faktor lain yang mempengaruhi cyberloafing.

Dalam penelitian Sari dan Ratnaningsih (2017), didapatkan bahwa kontrol diri pegawai menjadi faktor signifikan dalam perilaku cyberloafing, semakin rendah kontrol diri, maka semakin tinggi intensi cyberloafing.

Di sisi lain, penelitian cyberloafing perlu terus dikembangkan untuk melihat efek yang ditimbulkan pada emosi, kognisi, maupun perilaku pegawai agar didapatkan hasil yang berimbang antara efek positif dan negatif dari tindakan tersebut. Disebutkan dalam jurnal Behaviour and Information Technology Lee Kong Chian School Of Business (2012), tidak semua tindakan daring yang di luar kepentingan pekerjaan berdampak buruk pada pegawai.

Penggunaan internet pada waktu kerja dapat memberikan efek relaksasi dari beban pekerjaan dan memotivasi pegawai untuk bekerja lebih baik. Cyberloafing dapat memberikan dampak pada emosi pegawai sehingga dapat digunakan untuk melepaskan stres dan rehat sejenak dari pekerjaan untuk mendapatkan kembali konsentrasinya.

Hanya saja hasil penelitian tersebut, perlu ditelaah dan dikembangkan lebih lanjut terkait dengan jenis-jenis cyberlaofing yang dapat memberikan efek relaksasi dan pelepas stres. Penelitian lanjutan perlu dilakukan karena secara substansi, penggunaan jam kerja untuk kepentingan pribadi tentu saja akan memberikan dampak negatif, terutama pada produktivitas kerja.

 

Daftar Pustaka

Henle A. Christine dan Blanchard L., Blanchard., 2008, The Interaction of Work Stressors and Organizational Sanctions on Cyberloafing. Journal Of Managerial Issue, Vol. XX Number 3 fall 2008: 383- 400.

Lim, V.K.G., 2002. The IT way of loafing on the job: cyberloafing, neutralizing and organizational justice. Journal of Organizational Behaviour, 23, 675– 694.

Herlianto, Anindita Wicaksono. 2018. Pengaruh Stres Kerja Pada Cyberloafing. Tidak Dipublikasikan.

LIM, Vivien K. G. and CHEN, Don Jiaqing. Cyberloafing at the workplace: Gain or drain on work? (2012). Behavior and Information Technology. 31, (4), 343-353. Research Collection Lee Kong Chian School Of Business

Ramadhan, Hafidz Ibnu & Nurtjahjanti, Harlina. 2017. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Beban Kerja Dengan Cyberloafing Pada Karyawan Biro Administrasi Umum Dan Keuangan Universitas Diponegoro. Jurnal Empati, Januari 2017, Volume 6(1), 215-220 215.

Sari, Suci Laria & Ratnaningsih, Ika Zenita. Hubungan Antara Kontrol Diri Dengan Intensi Cyberloafing Pada Pegawai Dinas X Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Empati, April 2018, Volume 7 (Nomor 2), Halaman 160-166 160.

Rahayuningsih, Tri. 2017. Perilaku Cyberloafing Ditinjau Dari Kecerdasan Adversitas Dan Komitmen Kerja. PSYCHOPOLYTAN (Jurnal Psikologi) ISSN CETAK : VOL. 1 No. 1, Agustus 2017.

Cara Pengutipan:

Wasian, Gretiano. 2019. Dampak Internet Tanpa Batas di Dunia Kerja: Cyberloafing. Diakses pada tanggal 26-04-2019 melalui laman https://jagaddhita.org/dampak-internet-tanpa-batas-di-dunia-kerja-cyberloafing/.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *