Fakta Dibalik Bayi Bau Tangan

Pada awal kehidupan, bayi selalu menginginkan untuk bersama ibunya, sehingga muncul istilah ‘bayi bau tangan”. Istilah bayi bau tangan ini adalah kondisi dimana bayi nyaman dan tenang ketika dipeluk ataupun digendong oleh ibunya namun ketika diletakkan bayi akan menangis.

Banyak orang tua yang mengeluhkan bayinya ketika berada pada kondisi tersebut seolah-olah kondisi tersebut merupakan hal yang tidak wajar. Sehingga tidak jarang orang tua justru membiarkan bayi menangis dalam kondisi terpisah dari ibunya, agar tidak terbiasa gendongan atau tidak bau tangan.

Namun, sebenarnya hal ini bertentangan dengan teori psikologi yang menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan rasa aman melalui sentuhan fisik merupakan hal yang sangat penting dalam tahap perkembangan. Bukan tidak beralasan bayi baru lahir ingin selalu bersama ibunya, karena selama sembilan bulan bayi di rahim Ibu yang gelap, hangat, nyaman dan aman.

Ketika bayi lahir ke dunia, bayi merasa cemas dengan situasi baru. Situasi baru ini menyebabkan bayi ingin selalu dalam dekapan ibunya. Teori perkembangan psikososial yang dikemukakan Erikson menjelaskan bahwa, tahun pertama kehidupan manusia ada pada tahap perkembangan “trust vs mistrust” yang memiliki karakteristik bayi menuntut perasaan nyaman secara fisik (Santrock, 1995).

Pemenuhan kebutuhan tersebut diantaranya melalui dekapan, sentuhan, menggendong, memijat, menyusui dan aktivitas lain yang melibatkan sentuhan fisik antara ibu dan bayi. Pemenuhan kebutuhan tersebut akan membuat bayi memiliki pandangan bahwa dunia merupakan tempat tinggal yang baik dan menyenangkan. Melalui pengalaman yang hangat dan menyenangkan bersama orang dewasa itulah bayi belajar menggantungkan rasa percayanya kepada lingkungan dan dirinya sendiri sehingga dirinya dapat merespon secara tepat stimulus lingkungan.

Psikososial “trust vs mistrust”

Merujuk pada teori perkembangan psikososial Erikson “trust vs mistrust”, kondisi yang orang awam sebut dengan kondisi “bayi bau tangan” dimungkinkan bayi sedang ada pada masa trust vs mistrust. Kondisi tersebut bukanlah suatu kondisi yang tidak wajar. Hal tersebut memang merupakan bagian dari tahapan perkembangan yang harus dilalui dengan memberikan pemenuhan kebutuhan rasa aman melalui sentuhan fisik, kontak mata maupun ungkapan secara verbal kepada bayi.

Kondisi “bau tangan” tidak hanya bermanfaat untuk bayi, sentuhan fisik ibu-bayi juga bisa menjadi terapi untuk ibu yang baru melahirkan, jika didukung dengan beberapa faktor lain misalnya peran ayah atau suami dan keluarga. Menikmati setiap dekapan bersama buah hati akan mengisi jiwa ibu dan bayi merasa bahagia, beruntung dan penuh syukur.

Sama halnya dengan bayi yang baru lahir, ibu yang baru melahirkan juga mengalami kecemasan dengan peran barunya menjadi seorang ibu ( Simpson, Rholes, Campbell, Tran & Wilson, 2003). Tidak jarang bahwa seorang ibu melihat bayinya merupakan sosok yang tidak berdaya sehingga merasa terlalu khawatir dan cemas. Dikemukakan oleh Havingrust (Harlock, 1980) bahwa membina rumah tangga dan mengasuh anak merupakan tugas perkembangan yang menuntut seorang wanita menyesuaikan diri dengan peran baru melalui proses kehamilan, melahirkan dan peran menjadi orang tua.

Kontak fisik yang sering dilakukan ibu dan bayi akan meningkatkan bonding sehingga keduanya akan merasa nyaman dan aman. Hubungan Ibu dan anak menjadi sangat spesial ketika keduanya menikmati setiap proses perkembangan. Bayi yang baru lahir bukan berarti sosok yang tidak berdaya, sebaliknya bayi mempunyai daya yang kuat untuk membentuk kebahagiaan orang tuanya, khususnya seorang ibu. Begitu pula sebaliknya, ibu yang bahagia dalam mengasuh anak akan berdampak pada anak yang juga bahagia sehingga menunjang perkembangan anak yang lebih optimal.

 

Daftar Pustaka

Simpson, J.A., Rholes, W. S., Campbell, L., Tran, S., & Wilson, C.l. (2003). Adult attachment, the transition to parenthood, and depressive symptoms. Journal of Personality and Social Psychology, 84, 1172-1187

Hurlock, E.B. (1980). Development Psychology: A Life-Span Approach. Fifth Edition. New York: McGraw-Hill

Santrock, John. (1995). Life Span Development. Edisi ke lima. Jakarta: Erlangga


Artikel Ilmiah Psikologi Populer ini diterbitkan oleh Buletin Jagaddhita dengan nomor ISSN 2656-0089 (media-online).
Jika Anda ingin menerbitkan artikel ilmiah Anda, silahkan kirim naskah tulisan ke [email protected]

Cara Pengutipan:

Rachmawati, Sarah. 2019. Fakta Dibalik Bayi Bau Tangan. Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 3, April 2019. Diakses pada tanggal 22-04-2019 melalui laman https://jagaddhita.org/fakta-dibalik-bayi-bau-tangan/.

Artikel Psikologi Populer lainnya, yang mungkin Anda cari: