Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 4, Mei 2019

pISSN 2656-8225 | eISSN 2656-0089

Guru, Profesi yang Luar Biasa

Sekolah bisa disebut menjadi rumah kedua bagi anak. Jika di rumah tanggung jawab anak ada pada orang tua, sedangkan di sekolah tanggung jawab anak sepenuhnya dipegang oleh guru. Tak heran terkadang anak sangat dekat dan patuh kepada bapak/ibu guru dibandingkan dengan orang tua. Hal tersebut menjadikan guru adalah sosok yang penting sebagai orang tua kedua di sekolah untuk dapat mengenali pribadi anak, mengoptimalkan tumbuh kembang anak, meningkatkan prestasi anak, dan mendidik anak menjadi pribadi yang memiliki akhlak yang baik.

Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Tugas seorang guru tidak hanya terkait dengan kegiatan belajar-mengajar, namun juga bertugas membentuk karakter anak didiknya agar menjadi pribadi yang memiliki integritas, disiplin, bertanggung jawab dan menjaga martabat bangsa dan negara. Untuk menjadi guru tidak hanya bermodalkan pendidikan keguruan atau kuliah Strata satu sebagai syarat administrasi, melainkan lebih pada panggilan jiwa seseorang untuk berjuang mencerdaskan generasi bangsa.

Namun dalam beberapa kasus, siswa tidak lagi menghormati gurunya, seperti kasus penganiayaan terhadap guru yang dilakukan oleh siswa di SMA Sampang, Jawa Timur (m.kumparan.com, 2018) dan siswa SMP di Gresik yang menghina dan menantang gurunya berkelahi saat ketahuan merokok dan akan membolos (Arfah, 2019).  Kasus-kasus tersebut dapat menjadi indikator kegagalan dalam dunia pendidikan, yaitu kegagalan guru dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral yang baik (Arfah, 2019).

Masalah Yang Dialami Guru dalam Kegiatan Pendidikan

Kegagalan guru dalam mendidik siswa adalah masalah yang perlu diurai. Adapun masalah-masalah yang dialami guru dalam kegiatan belajar mengajar dikelompokkan menjadi empat masalah (Abid, 2017), yaitu:

1. Masalah dalam pengelolaan kelas.

Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan, memelihara dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif. Suasana kelas yang kondusif dapat mengantarkan anak didik untuk meraih prestasinya, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien (Suryosubroto, 2002).

2. Masalah dalam menerapkan metode pembelajaran.

Metode pembelajaran adalah cara yang diperlukan dalam pengajaran yang merupakan strategi untuk mencapai tujuan pembelajaran, seperti ceramah, diskusi, demonstrasi, simulasi, presentasi, dan lain sebagainya. Metode pembelajaran yang digunakan guru disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan (Djamarah, 2005).

3. Masalah hubungan guru dalam berinteraksi dengan anak didik.

Hubungan guru dan anak didik merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Hubungan yang harmonis antara guru dan anak didik akan menyebabkan proses belajar mengajar menjadi lancar karena siswa bersedia berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar (Sardiman, 2007).

4. Masalah dalam media pembelajaran.

Media pembelajaran yang digunakan guru dapat membantu dalam menyampaikan materi kepada anak didik agar materi dapat disampaikan dengan tepat  (Sadiman, 2009). Masalah-masalah yang sudah dijabarkan di atas tentunya dapat mempengaruhi mutu pendidikan, karena mutu pendidikan di sekolah berhubungan dengan kualitas guru (Mulyasa, 2008).

Peran Guru dalam Kegiatan Pendidikan

Guru yang berkualitas adalah guru yang memahami bahwa profesinya merupakan ujung tombak pendidikan. Guru memiliki beragam peran dalam kegiatan pendidikan, diantaranya sebagai pengajar dan pendidik, pembimbing, pemimpin, ilmuan, pribadi, penghubung, perubahan, dan pembangunan (Gunawan, 2014).

Dalam usahanya melakukan transfer of knowledge dan transfer of value, seorang guru yang berperan sebagai pengajar dan pendidik, harus selalu memperbarui ilmu pengetahuan dan memperluas wawasannya. Hal tersebut dimaksudkan agar guru tidak ketinggalan informasi dan dapat menanamkan karakter positif dari nilai-nilai luhur kehidupan sehingga anak didik dibimbing untuk menguasai tiga kompetensi, yaitu ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Secara pribadi, guru pun perlu memiliki sifat-sifat yang disenangi oleh anak didiknya, orang tua, dan masyarakat (Hamalik, 2006), sehingga dapat memosisikan diri sebagai pemimpin semua anak didik (top figure) yang melatih anak didik agar siap menjadi pemimpin dan dipimpin.

Selain itu, untuk menjembatani budaya dan pola pikir antara generasi, guru dapat pula berperan sebagai penghubung dan perubahan (agent of change), menuju masyarakat yang lebih maju, dari yang tidak tahu menjadi tahu, tidak pandai menjadi pandai, dan tidak berdaya menjadi berdaya. Dimana proses transformasi ini berjalan tanpa menimbulkan gejolak sosial dan menjadi penghubung antara ketertinggalan dengan kemajuan. Sehingga dengan tenaga guru yang kompeten akan mendukung kemajuan pendidikan dan pembangunan suatu negara.

Untuk dapat berkontribusi besar terhadap pendidikan, guru perlu kreatif dan cerdas (Gunawan, 2014), sebagai motivator dan supporter untuk membentuk karakter anak didik, memberi semangat dan menginspirasi anak didik agar menemukan minat dan bakatnya, yang tidak bisa digantikan dengan mesin apa pun (Authar, 2018).

Banyaknya peran guru membuktikan betapa besarnya tugas dan tanggung jawab guru untuk mengantarkan anak didik ke gerbang kesuksesan dan menjadi generasi yang berakhlak baik. Guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. Anak didik dapat mengakses informasi tidak hanya dari apa yang diajarkan oleh guru, tetapi bisa melalui internet. Oleh karenanya, guru juga wajib belajar mengembangkan diri untuk selalu dinamis, selalu belajar dan melek teknologi. Kewajiban guru untuk pengembangan diri tersebut, perlu menjadi perhatian dalam pendidikan guru di masa yang akan datang.

 

Daftar Pustaka

Kumparan News. (2018, November). 4 Kasus Siswa Lakukan Kekerasan Terhadap Gurunya di Sekolah. Diambil dari http://m.kumparan.com/@kumparannews/4-kasus-siswa-lakukan-kekerasan-terhadap-gurunya-di-sekolah-1541980407154715595.

Abid, M. N. (2017, Oktober). Problematika Guru di dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Diambil dari https://dosenmuslim.com/pendidikan/problematika-guru/.

Arfah, H. (2019, Februari). 5 Fakta Kasus Siswa SMA Hina Guru, Gagal Bolos hingga tantang berkelahi. Diambil dari http://jateng.tribunnews.com/amp/2019/02/11/5-fakta-kasus-siswa-smp-hina-guru-gagal-bolos-hingga-tantang-berkelahi?page=2.

Authar, N. (2018, November). Tantangan Guru Era Milenial. Diambil dalam http://aceh.tribunnews.com/amp/2018/11/24/tantangan-guru-era-milenial?page=2.

Djamarah, S. B. (2005). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Gunawan. (2014, Agustus). Mendidik multi peran Guru. Diambil dari https://bdksemarang.kemenag.go.id/mendidik-multi-peran-guru/.

Hamalik, (2006). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyasa, E. (2008). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Sadiman, A. (2009). Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sardiman. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suryosubroto, B. (2002). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.


Artikel Ilmiah Psikologi Populer ini diterbitkan oleh Buletin Jagaddhita dengan nomor pISSN 2656-8225 (cetak) dan eISSN 2656-0089 (media-online).
Jika Anda ingin menerbitkan artikel ilmiah Anda, silahkan kirim naskah tulisan ke [email protected]

Cara Pengutipan:

Masruroh, Dewi. 2019. Guru, Profesi yang Luar Biasa. Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 4, Mei 2019. Diakses pada tanggal 15-11-2019 melalui laman https://jagaddhita.org/guru-profesi-yang-luar-biasa/.

Artikel Psikologi Populer lainnya, yang mungkin Anda cari: