Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 4, Mei 2019

pISSN 2656-8225 | eISSN 2656-0089

Kecurangan Akademik: Sudah Tau Salah, Kenapa Masih Dilakukan?

Sudah sejak lama isu mengenai kecurangan akademik berkembang di dunia pendidikan, namun tampaknya sampai saat ini belum ada solusi yang benar-benar dapat menuntaskan masalah tersebut.

Kecurangan akademik tampaknya semakin dianggap wajar oleh para siswa. Hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang melakukan kecurangan untuk mendapatkan nilai yang memuaskan (Clariana, Badia, & Cladellas, 2013; Jensen, Arnett, Feldman, & Cauffman, 2002).

Di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Febriyanti (2008) terhadap 208 mahasiswa menunjukkan hasil 97,6 persen dari total responden mengaku pernah melakukan kecurangan akademik.

Kecurangan akademik yang paling banyak dilakukan adalah dengan menggunakan materi yang dilarang digunakan saat dilaksanakan ujian, plagiasi, dan pemalsuan data pada penyusunan laporan atau tugas kuliah (Kurniawan, dalam Purnamasari, 2013).

Apa saja yang termasuk kecurangan akademik?

Kecurangan akademik merupakan upaya menghindari aturan, standar, praktik, kebiasaan, adat istiadat dan norma-norma untuk memperoleh keuntungan akademik atau untuk melindungi seseorang yang telah melakukannya (Vellaris, 2017). Sementara itu Athanasou dan Olasehinde (Anderman & Murdock, 2007) menjelaskan bahwa kecurangan akademik adalah penggunaan atau penyediaan bahan-bahan yang tidak sah atau bantuan dalam penilaian akademik.

Bintoro, Purwanto, & Noviyani (2013) menyebutkan beberapa perilaku yang termasuk kecurangan akademik adalah menyontek, memalsu, plagiat, menjiplak, menyuap, memberi hadiah dan mengancam, menggantikan kedudukan orang lain dalam kegiatan akademik, serta bekerja sama saat ujian baik secara lisan dengan isyarat atau melalui alat elektronik.

Secara lebih terperinci, Purnamasari (2013) menjelaskan perbuatan yang termasuk dalam kategori kecurangan akademik yang dilakukan di sekolah antara lain: meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes atau ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, saling tukar pekerjaan tugas dengan teman, serta menyuruh atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take home test.

Mengapa siswa melakukan kecurangan?

Kecurangan (terhadap apa pun, termasuk juga kecurangan di bidang akademik seperti menyontek, plagiasi, mencari bocoran soal, dan sebagainya) sudah barang tentu merupakan tindakan moral yang buruk karena menunjukkan ketidakjujuran pelakunya.

Namun faktanya, banyak siswa yang mengakui bahwa kecurangan akademik adalah hal yang salah, tapi mereka tetap melakukannya (bahkan berulang kali). Hal ini menunjukkan bahwa moralitas tidak selalu berhubungan dengan kecurangan akademik. Penelitian yang dilakukan oleh Afroh (2014) terhadap siswa MTs menunjukkan hasil tidak ada hubungan antara penalaran moral dengan perilaku menyontek. Semakin tinggi penalaran moral, tidak selalu disertai dengan semakin rendah atau semakin tinggi perilaku menyontek yang dilakukan oleh siswa.

Anderman & Murdock (2007) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi siswa melakukan kecurangan akademik. Pertama, pencapaian akademik. Mendapatkan nilai yang tinggi merupakan harapan semua siswa. Namun ketika siswa hanya berfokus pada hasil akhir dan bukan pada prosesnya, maka hal ini akan mendorong siswa untuk melakukan apa saja demi tercapainya nilai yang diharapkan. Bagi siswa yang memiliki motivasi ekstrinsik (seperti nilai tinggi), cenderung lebih terdorong untuk melakukan kecurangan akademik (Midgley dalam Anderman & Murdock, 2007). Sebaliknya, penelitian lain melaporkan hubungan terbalik antara kecurangan akademik dengan motivasi intrinsik dalam kelas tertentu (Anderman et al., 1998; Murdock et al., 2001; dalam Anderman dan Murdock 2007).

Kedua, self efficacy. Penelitian yang dilakukan oleh Pajares (dalam Anderman dan Murdock, 2007) melaporkan terdapat hubungan terbalik antara kecurangan dan self-efficacySelf-efficacy adalah keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki. Siswa dengan self-efficacy yang lebih tinggi yakin terhadap kemampuan yang dimiliki sehingga mereka lebih percaya diri untuk mencapai tujuan dan lebih bertahan dalam menghadapi kesulitan.

Ketiga, kemampuan siswa juga tampaknya berkorelasi dengan perilaku curang yang dilakukan. Siswa dengan kemampuan lebih rendah cenderung terlibat dalam perilaku curang. Meskipun kategori kemampuan siswa pada penelitian umumnya adalah rata-rata, hasil penelitian menemukan bahwa kemampuan berkorelasi terbalik dengan kecurangan. (Baird, 1980; Diekhoff et al., 1996; Genereux & McLeod, 1995; Haines et al., 1986; Leming, 1980; Michaels & Miethe, 1989; dalam Anderman & Murdock, 2007).

Selain ketiga faktor di atas, beberapa faktor lain seperti jenis kelamin, usia dan tingkat kelas, besarnya institusi atau organisasi, dan faktor kepribadian seperti impusivitas dan sensation seeking serta kontrol diri juga dapat mempengaruhi siswa dalam melakukan kecurangan akademik.

 

Daftar Pustaka

Afroh, K. (2014). Hubungan Antara Penalaran Moral dengan Perilaku Menyontek di Madrasah Tsanawiyah Negeri Gondowulung Bantul. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Anderman, & Murdock. (2007). Psychology of Academic Cheating. USA: Academic Press.

Bintoro, Purwanto, & Noviyani. (2013). Hubungan Self Regulated Learning dengan Kecurangan Akademik Mahasiswa. Educational Psychology Journal Universitas Negeri Semarang.

Clariana, M., Badia, M., & Cladellas, R. (2013). Academic Cheating and Gender Differences in Barcelona (Spain). Summa Psicologica UST, 10(1), 65–72.

Jensen, L. A., Arnett, J. J., Feldman, S. S., & Cauffman, E. (2002). It’s Wrong, But Everybody Does It: Academic Dishonesty Among High School and College Students. Contemporary Educational Psychology, 27(2), 209–228.

Purnamasari, D. (2013). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecurangan Akademik Pada Mahasiswa. Educational Psychology Journal. Retrieved from https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/epj/article/view/2581.

Vellaris, D. M. (2017). Handbook Of Research on Academic Misconduct in HIgher Education. Hershey PA: IGI Global. Retrieved from file:///E:/jurnal ilmiah/Ignorance-or-Intent_Baker-Gardner&Smart2017_UWIMona_FacultyPub_Coll.pdf.


Artikel Ilmiah Psikologi Populer ini diterbitkan oleh Buletin Jagaddhita dengan nomor pISSN 2656-8225 (cetak) dan eISSN 2656-0089 (media-online).
Jika Anda ingin menerbitkan artikel ilmiah Anda, silahkan kirim naskah tulisan ke [email protected]

Cara Pengutipan:

Gina, Fathana. 2019. Kecurangan Akademik: Sudah Tau Salah, Kenapa Masih Dilakukan?. Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 4, Mei 2019. Diakses pada tanggal 15-11-2019 melalui laman https://jagaddhita.org/kecurangan-akademik-sudah-tau-salah-kenapa-masih-dilakukan/.

Artikel Psikologi Populer lainnya, yang mungkin Anda cari: