Buletin Jagaddhita Januari 2019

Tahapan Strategi Guru Dalam Mendorong Literasi Digital

Era digital telah menuntut dunia pendidikan untuk dapat beradaptasi dengan cepat. Aplikasi teknologi digital dan konektivitas semakin banyak digunakan untuk kegiatan sehari-hari, termasuk pada proses belajar mengajar. Belajar adalah sebuah proses yang melibatkan aspek fisik dan psikologis untuk memperluas pengetahuan dan menghasilkan ketrampilan baru dari apa yang sudah dipelajari. Dalam kajian psikologi, belajar adalah suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif (Skinner dalam Alwisol, 2008). Progresivitas dalam belajar itulah yang perlu mendapat perhatian dari guru pendidik dalam menghadapi dunia digital saat ini.

Peran guru sebagai fasilitator dalam pendidikan

Peran utama guru adalah mengajar dan pada saat bersamaan siswa dapat belajar (Murwani, 2006). Dengan kata lain, guru harus mampu menciptakan ruang di mana mereka dapat mengajar, sekaligus menyediakan kesempatan belajar siswa seluas-luasnya secara bersamaan.

Dalam era digital sekarang ini, di mana arus informasi saling terhubung dengan konektivitas yang tanpa batas, tidak jarang, siswa dapat menerima informasi baru secara lebih cepat dibanding guru. Informasi ini jika disampaikan dalam proses pembelajaran, dapat menjadi masukan baru dalam dinamika pembelajaran.

Guru dituntut agar dapat adaptif, dan mengarahkan semua input yang masuk menjadi sebuah nilai tambah dalam proses pembelajaran. Fungsi guru sebagai fasilitator (Mas, 2008) menjadi penting, untuk mendorong kemampuan dan kreativitas siswa secara maksimal (Ahmadi & Supriyono, 1991)

Literasi digital dalam pendidikan

Literasi dasar adalah kemampuan untuk membaca dan menulis. Yang kemudian, seiring perkembangan jaman, kemampuan ini meningkat dan mencakup di dalamnya Literasi digital atau Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Literasi digital merupakan salah satu literasi dasar yang harus dimiliki masyarakat dunia, berdasarkan rekomendasi  dari  Forum Ekonomi Dunia 2015 (Haleudin, 2018).

Kemendikbud  menyebut literasi digital (Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM), 2016) adalah kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi.

Dalam hal ini, siswa diminta dapat memiliki kemampuan dalam mengakses informasi dengan menggunakan teknologi komputer dan internet. Sehingga siswa dapat menerima, mengelola dan mengolah informasi dari beragam media digital secara lebih analitis, kritis, dan reflektif Sehingga dapat menggunakannya untuk mencapai target proses pembelajaran secara maksimal.

Tahapan strategi guru dalam mendorong literasi digital

Siswa selalu bersentuhan dengan dunia digital dalam keseharian mereka. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami dunia digital, sama seperti siswa. Agar dapat menciptakan suasana belajar yang harmonis.

Dalam mendorong literasi digital tersebut ada beberapa hal yang dapat dilakukan (Fitriyadi, 2013):

  1. Permulaan (muncul/merging)

Dalam tahapan ini, guru memulai proses pengenalan teknologi komputer dan internet dalam aktivitas di sekolah, baik dalam proses belajar mengajar ataupun administrasi sekolah. Contohnya: guru memberikan tugas ke siswa dengan peranti lunak office word, atau guru berbagi informasi melalui email. Dalam tahap permulaan, target utama adalah guru mampu mengenali teknologi yang akan digunakan, sehingga dapat menggunakannya dalam beberapa aktivitas mereka.

  1. Penerapan (menerapkan/applying)

Dalam tahapan ini penggunaan komputer dan internet diperkaya, dengan menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar, seperti pembelajaran dengan slide presentasi, dan menggunakan sistem administrasi yang lebih terstruktur dengan teknologi jaringan komputer. Guru diminta mampu mengaplikasikan lebih banyak teknologi komputer dan internet dalam kesehariannya.

  1. Penanaman (menanamkan/infusing)

Dalam tahapan ini teknologi telah diterapkan bersamaan dengan kurikulum. Sehingga seluruh proses belajar mengajar dan administrasi telah menggunakan solusi teknologi yang ada. Guru mampu bekerja dengan teknologi secara lebih baik, dan menerapkannya untuk mendukung aktivitas mereka sebagai pendidik.

  1. Perubahan (transformasi)

Dalam tahapan ini, teknologi telah terintegrasi dan menciptakan perubahan-perubahan positif dalam proses belajar mengajar dan administrasi sekolah. Setiap komponen sekolah telah memanfaatkan teknologi secara menyeluruh, dan menggunakannya secara lebih kreatif. Guru telah mampu menciptakan ide baru dalam proses pembelajaran, dengan bantuan teknologi komputer dan internet.

Sehingga pada akhirnya baik siswa ataupun guru secara bersamaan melakukan proses pembelajaran, untuk menciptakan kompetensi kunci dalam mewujudkan proses pendidikan yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu & Supriyono, Widodo. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta : Penerbit RIneka CIpta.

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian edisi revisi. Malang : UMM Press

Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM). (2016). Gerakan Literasi untuk Tumbuhkan Budaya Literasi. Pada Media Komunikasi dan Inspirasi, Jendela Pendidikan dan Kebudayaan (p. 6). Jakarta: Kemendikbud.

Haleudin, H. (2018, 11 29). Aplikasi Literasi Teknologi Informasi & Komunikasi sebagai Inovasi dalam Pendidikan. Diakses melalui https://www.researchgate.net/: https://www.researchgate.net/publication/326316966_Aplikasi_Literasi_Teknologi_Informasi_Komunikasi_sebagai_Inovasi_dalam_Pendidikan

Johan, M. G., & Suyanto. (2018, 11 29). Masyarakat Era Digital Dan Pendidikan: Antara Peluang dan Tantangan. Diakses melalui https://www.researchgate.net/: https://www.researchgate.net/publication/322265378_MASYARAKAT_ERA_DIGITAL_DAN_PENDIDIKAN_ANTARA_PELUANG_DAN_TANTANGAN

Mas, S. R. (2008). Profesionalitas Guru Dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran. INOVASI, Volume 5, Nomor 2, 1-10.

Murwani, E. D. (2006). Peran Guru dalam Membangun Kesadaran Kritis Siswa. Jurnal Pendidikan Penabur, 59-68.

Cara Pengutipan:

, Rosyad. 2019. Tahapan Strategi Guru Dalam Mendorong Literasi Digital. Diakses pada tanggal 21-11-2019 melalui laman https://jagaddhita.org/tahapan-strategi-guru-dalam-mendorong-literasi-digital/.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *